Saturday, November 15, 2014

Pengendalian dalam kepemimpinan

PENGENDALIAN DALAM KEPEMIMPINAN

1.      Kepemimpinan
            Dalam kepemimpinan jelas adanya masalah hubungan manusia atau antar insani (Hablum – Minannas). Hubungan dan perkalian antar individu itu sebagai kemanusiaan berlangsung antara pemimpin dengan orang – orang yang dipimpinnya. Disamping itu termasuk juga kemampuannya menciptakan dan membina hubungan manusiawi yang efektif antara sesama orang-orang yang dipimpinnya.

Ø  Pengendalian Dalam Kepemimpinan
Dalam kepemimpinan ada yang namanya pengendalian sebagai salah satu fungsi dari manajemen di sebuah kepemimpinan. Kegiatan pengendalian di dalam sebuah kepemimpinan itu bermaksud untuk mendapatkan respon yang bermakna atau sesuai dengan yang diinginkan pemimpin, dari semua anggota kelompok / organisasi, disamping itu apabila organisasi memiliki program kerja, berarti juga respon tersebut harus merupakan realisasi kegiatan – kegiatan yang telah dirumuskan di dalam program tersebut. Wewenang yang dimiliki pemimpin, bukan jaminan bahwa pemimpin secara otomatis yang dimiliki pemimpin, bukan jaminan bahwa pemimpin secara otomatis dapat melakukan kegiatan pengendalian.
Kegiatan mengendalikan organisasi sangat tergantung pada kemampuan membina dan mengelola orang – orang yang dipimpin agar menjadi suatu regu (team) yang kompak. Kegiatan tersebut berfungsi untuk menyatukan perasaan dan pikiran setiap anggota-anggota.
Fungsi pengendalian sangat di butuhkan dalam kepemimpinan yaitu:
·         Menciptakan suatu mutu yang lebih baik, dengan pengendalian dapat ditemukan suatu proses atau menyimpang dan kemudian dapat di koreksi.
·         Dapat menciptakan sebuah siklus yang lebih cepat.
·         Untuk mempermudah pendelegasian dan kerja tim.[1]
Yang jelas sebelum mengambil keputusan untuk pengendalian sebuah masalah, sangat dibutuhkan yang namanya musyawarah, agar terwujudnya kebersamaan dengan tertentu.
Ø  Tujuan – Tujuan itu adalah
1.      Untuk mengumpulkan informasi, pemikiran (pengetauhan), fakta – fakta, pendapat-pendapat dan saran – saran dalam melaksanakan tugas pokok atau program kerja organisasi.
2.      Untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja / tugas pokok organisasi.
3.      Untuk memecahkan masalah yang dihadapi organsasi.
4.      Untuk menyampaikan informas perintah (intruksi), petunjuk, bimbingan dan pengarahan pada sebahagian atau semua anggota organisasi.
5.      Untuk menghindari jurang komunikasi (Communication Gap) antara pimpinan dengan sesama anggota organisasi.

Pemimpin suatu organisasi tidak saja menghadapi masalah hubungan  manusiawi antara dirinya dengan anggota organisasi, tetapi juga dalam menciptakan, membina dan mengembangkan hubungan manusiawi antar sesama anggota organisasi. Dalam  suasana hubungan manusiawi yang efektif, selalu terbuka peluang untuk memotivasi anggota organisa si agar bekerja sma dalam melakukan kegiatan/pekerjaan yang terarah pada tujuan  organisasi. Kerja sama tidak akan terwujud jika tidak ada kegiatan/pekerjaan yang harus/perlu dikerjakan, yang bersumber dari keputusan - keputusan pemimpin organisasi atau unit/bidang masing – masing.
Keputusan pada dasarnya berarti hasil akhir dalam mempertimbangkan sesuatu, yang akan dilaksanakan secara nyata. Keputusan dapat diartikan juga hasil terbaik dalam memilih satu diantara dua.
Pengambilan atau penetapan keputusan (de – cission making) yang disebut pertimbangan atau mempertimbangkan itu. Merupakan proses atau rangkaian kegiatan menganlisis berbagai fakta. Informasi, data dan teori / pendapat yang akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang dinilai paling baik dan tepat. Pengambilan keputusan dapat dilakukan sendiri dan dapat pula dengan bantuan atau pengikutsertaan orang lain.
Dilingkungan suatu organisasi secara konvensional diterima ketentuan, bahwa pengambilan keputusan merupakan wewenang (hak dan kewajiban) pucuk pimpinan. Dengan kata lain wewenang adalah hak yang dimiliki oleh seseorang sebagai pimpinan dalam mengambil keputusan yang akan diwujudkan menjadi kegiatan di lingkungan suatu organisasi.
Wewenang dapat dilimpahkan oleh pucuk pimpinan kepada para pimpinan yang tingkatan atau jenjangnya lebih rendah.
Penerima wewenang harus mengetauhi secara tepat tentang keputusan dan kegiatan apa yang boleh ditetapkan atau dilaksanakannya, meskipun telah ada pembagian/ pembidangan kerja berdasarkan struktur organisasi. Demikian pula harus jelas pula kepada siapa wewenang itu dilimpahkan diantara unit yang sama atau tidak sama jenjangnya di lingkungan suatu organisasi. Kejelasan itu sangat penting untuk memperlancar proses pengambilan keputusan dan tidak terjadi kesimpangan atau tumpang tindih kewenangan. Disamping itu akan sangat besar pengaruhnya pada keseluruhan pelaksanaan volume kerja dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Pelimpahan wewenang harus disertai pelimpahan tanggung jawab, agar tidak dipergunakan secara keliru atau semena-mena.

Selanjutnya  pelimpahan wewenang dan tanggung jawab secara empiris dilingkungan suatu organisasi. Akan banyak memberikan manfaat bagi perwujudan kepemimpinan yang efektif. Manfaat itu antara lain adalah :
1.      Pucuk pimpinan memperoleh kesempatan yang cukup luas untuk memikirkan keputusan dan melaksanakan tugas-tugas yang prinsip da penting saja.
2.      Setiap keputusan dan perintah melaksanakannya sebagai tugas, dapat ditetapkan dan dilakukan pada jenjang kepemimpinan yang tepat.
3.      Keputusan – keputusan dapat ditetapkan secara tepat, tanpa kekhawatiran terjadi penyalahgunaan wewenang, karena setiap pemimpin berkewajiban menyampaikan pertanggung/jawbannya.
4.      Memperbesar partisipasi dan meningkatkan dedikasi, loyalitas dan moral kerja, karena setiap anggota organisasi merasa ikut berperan serta dengan posisinya masing – masing.
5.      Mendorong dan mengembangkan motivasi untuk kreatif, berinisiatif dan berprestasi di bidang masing-masing.
6.      Menghilangkan sifat dan sikap bekerja menunggu perintah atau keputusan pucuk pimpinan.
7.      Pelaksanan pekerjaan tidak terhambat, meskipun pucuk pimpinan berhalangan atau tidak hadir.
8.      Pucuk pimpinan berkesempatan mempersiapkan kader pimpinan.

Dari uraian – uraian singkat tersebut diatas jelas bahwa dalam kepemimpinan ajaran islam mengutamakaan proses pengambilan keputusan yang aporiori, tanpa mengabaikan pentingnya proses yang bersifat apotriori.

3.      Hubungan Manusiawi dalam kepemimpinan
Untuk mengawali uraian ini, sepatutnya untuk disimak dan dihayati firman Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 13 yang mengatakan sebagai berikut:
r'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) öä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ
13.  Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.



Firman Allah SWT itu memberitahukan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri dan menyendiri di muka bumi.Manusia antara satuu dengan yang lain saling membutuhkan.Oleh karena  itu manusia memerlukan hubungan manusiawi yang efektif untuk saling kenal-mengenal. Dalam hubungan manusia  dapat saling membantu dalam usahanya mencari ridha  Allah SWT menjadi umat- Nya yang bertagwa.dengan hubungan  manusiawi yang efektif itu pula manusia akan  mcmperoleh kemuliaan dan saling memuliakan, sebagai mahkluk Allah SWT yang terbaik dimuka bumi.
Di lingkungan umat Islam setiap pemimpin memikul kewajiban dan tanggung jawab menciptakan dan membina. Hubungan manusiawi yang efektif, tidak saja dalam kepemimpinan bidang keagamaan, tetapi juga dalam semua bidang kehidupan. Upaya mewujudkan kewajiban dan tanggung jawab itu semakin penting nilai dan artinya, jika dilakukan oleh seorang pemimpin berdasarkan kesadaran bahwa umat Islam bersaudara antara yang satu dengan yang lainnya. Bersaudara sesamanya meskipun berbeda suku atau bangsanya, dan berbeda Pula status social ekonominya. Demikian pula bersaudara sesamanya, meskipun yang satu menjadi pemimpin, sedang yang lainnya adalah orang yang dipimpin.
Antara pemimpin dan orang yang dipimpin terjalin hubungan manusiawi yang efektif dan diridhai Allah SWT. Hubungan itu tidak sepatutnya dipergunakan sebagai alat untuk mempersulit orang lain dalam melaksanakan tugas/kegiatannya, dengan menggunakan kewenangan atau kekuasaan sebagai pemimpin. Selanjutnya akan menjadi lebih buruk lagi, jika tugas/kegiatan orang tersebut sebenarnya bermaksud mengajak berbuat kebaikan sesuai dengan petunjuk dan tuntunan Allah SWT.
Hubungan manusiawi yang efektif dan diridhai Allah SWT didalam suatu kelompok/organisasi hanya akan terwujud bila mana pemimpin merupakan orang yang beriman. Untuk itulan melalui surat Ali Imran ayat 118, Allah SWT telah menurunkan firman-Nya yang bersifat peringatan, Firman-Nya itu berbunyi sebagai berikut:



Peringatan yang tegas di dalam firman Allah SWT tersebut diatas, tidak sepatutnya diabaikan oleh setiap umat islam. Dengan mematuhi firman tersebut berarti setiap pemimpin dan orang yang dipimpin menyadari, bahwa hanya diantara sesama orang yang beriman pada Allah SWT, dapat diwujudkan hubungan manusiawi, yang memungkinkan kepemimpinan berlangsung efektif. Sebaliknya harus disadari pula bahwa akan banyak hambatan dan kesulitan yang dihadapi pemimpin dari orang yang dipimpin.
Uraian-uraian diatas memberikan gambaran pentingnya hubungan manusiawi (Hablum-Minannas) dalam kepemimpinan, dengan prinsip pokok perwujudannya telah diberikan pedoman atau tuntunannya oleh Allah SWT. Petunjuk dan tuntunan yang bersifat prinsipil itu bilamana diterjemahkan secara empiris,maka hubungan manusiawi dalam kepemimpinan berarti kemampuan dan cara seorang pemimpin dalam memperlakukan orang-orang yang dipimpinnya.
Hubungan manusiawi bukan tujuan, tetapi merupakan alat dalam mewujudkan proses kepemimpinan, yang harus terus dibina karena merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada dinamika kelompok/organisasi untuk itu perlu dibedakan dua bentuk hubungan manusiawi sebagai berikut:
1.      Hubungan Manusiawi Efektif (positif)
Hubungan ini ditandai dengan kesedihan saling mendekat,karena menyenangkan kedua belah pihak yang saling berinteraksi. Dalam kepemimpinan hubungan ini mendorong tumbuhnya kemauan ikut berpartisipasi (sense of partisipasiton) dalam melaksanakan berbagai kegiatan organisasi kebersamaan itu akan menimbulkan perasaan ikut memiliki (sense of belonging) terhadap organisasi dan seluruh kegiatannya. Pada giliran berikutnya akan timbul pula perasaan ikut bertanggung jawab (sense of responsibilitty) atas keberhasilan kelompok/organisasi dalam mewujudkan tujuannya. Gejala hubungan manusia efektif ini terlihat pada tingkah laku individual berupa kesediaan secara aktif menyampaikan kreativitas, inisiatif. Pendapat dan saran untuk perkembangan dan kemajuan organisasi. Disamping itu selalu aktif pula melaksanakan berbagai kegiatan/pekerjaan, baik secara perseorangan maupun dalam bentuk kerja sama dengan anggota organisasi lainya.
2.      Hubungan Manusia Tidak Efektif (Negatif)
Hubungan inin ditandai kehendak untuk saling menjauh karena tidak menyenangkan salah satu atau kedua belah pihak yang saling berinteraksi. Dalam kepemimpinan hubungan manusiawi in menimbulkan peraasan seperti orang luar, yang merasa tidak ikut bertanggung jawab pada organisasi dan kegiatannya dengan demikian juga cenderung menolak untuk ikut berpartisipasi dalam melaksanakan berbagai kegiatan organisasi. Gejalanya dalam tingkah laku individual terlihat pada keengganan dan tidak pernah menyampaikan kreativitas, pendapat dan saran yang berguna bagi organisasinya. Disamping itu juga cenderung menghindari pelaksanaan berbagai pekerjaan/kegiatan. Baik yang harus dikerjakan sendiri maupun bersama anggota organisasi lainnya.
            Berarti kepemimpinan yang efektif hanya akan terwujud dalam hubungan manusiawi yang efektif pula. Oleh karena itu pemimpin perlu memiliki kemampuan dan sifat-sifat kepribadian yang mendukung usahanya mewujudkan hubungan manusiawi efektif. Oleh karena pentingnya hubungan manusiawi yang efektif.
            Untuk mewujudkan hubungan manusiawi yang efektif, para pemimpin harus mampu memperlakukan orang yang dipimpinnya sebagai subyek, yang sama derajatnya dengan dirinya. Manusia bukan dan tidak sepatutnya dijadikan obyek, sebagaimana layaknya sebuah benda mati, yang dapat diperlakukan sekehendak hati manusia. Setiap manusia sebagai individu memiliki pikiran, perasaan, kehendak/keinginan, batas kemampuan dan lain – lain yang juga dimiliki oleh pemimpin dan orang yang dipimpinnya.







[1] M.Munir S.Ag. & Wahyu Ilaihi. S.Ag.MA. Manajemen Dakwah (Jakarta: Kencana, 2006)  Hal.178

No comments: